Monthly Archives: February 2010

Lemari, oh lemari…

Sebenarnya,
setelah selesai menulis ini saya agak ragu apakah akan menekan tombol ‘Publish’ atau tidak,
karena ini menyangkut imej yang sudah saya bangun dengan susah payah *halah, lebay*

Tapi tapi,
saya benar-benar terharu dan ingin mengabadikannya di blog, jadi, yasudahlah ;p

Jadi begini sodara-sodara…
Kamar kosan gw memang memiliki jendela yang menghadap ke luar. Tapi sayangnya, jendela itu menghadap ke Selatan, dan, tertutup oleh dedaunan pohon. Otomatis, jadi ga pernah dapet sinar matahari langsung.

Nah, belakangan ini kan musim hujan tuh, walaupun sekarang kayaknya udah pancaroba ya, kadang panas, kadang hujan. Jadinya kan kamar lembab ya, apalagi ga pernah dapet sinar matahari. Entah sejak kapan, tiba-tiba gw sadar, di dalam lemari gw mulai bermunculan bintik-bintik yang kayak debu, tapi warnanya hijau. Jamur kah?? Yaa, mungkin ya, atau lumut? Duh, gw ga gitu ngerti apakah itu gerangan. Pokoknya mengerikan lah wujudnya.

Dudulnya, di setiap akhir minggu ketika saya sedang di kosan *bukan di rumah di Bogor*, niat untuk membersihkan dan membereskan lemari itu menguap begitu saja. Biasanya sih kalah sama keinginan untuk tidur-tiduran sambil nonton. I knooooow, jorok banget kan, huhuhu. Makanya saya males posting tulisan ini T___T. Jadinya, entah beberapa minggu organisme itu betah nangkring di lemari gw.

Tapi kemarin, ketika gw buka pintu lemari, bintik-bintik hijau itu lenyap sudah. Bersih!! Gw sampe shock, kaget, tak percaya. Lalu akhirnya sadar, pasti ini si ibu penjaga kosan yang membersihkan. Langsung terharu, baik bangeeeeeeeeet. Sebenernya terselip secercah pikiran, “lah, berarti lemari gw dibuka-buka dong”. Tapi gw yakin, orang sebaik ibu penjaga kosan, yang mau-maunya membersihkan lemari dan kamar gw sampe kinclong, ga akan mengambil sesuatu yang bukan haknya ^^.

Lesson learned,
Ga usah membersihkan kamar atau lemari, karena nantinya akan dibersihkan juga sama ibu penjaga kosan. Ahahahahah… salah ya kayaknya? ^^;

Setelah berkonsultasi dengan mbah Google, ternyata ada beberapa solusi untuk mengatasi dan bahkan mencegah tumbuh jamur di lemari. Ini beberapa di antaranya:
http://queen.blogdetik.com/2009/02/17/mengatasi-jamur-di-lemari/
http://librarycorner.org/2009/06/17/solusi-untuk-lemari-berjamur/
Mungkiiin, kalo gw lagi semangat bersih-bersih dan ada waktu luang, solusi ini bakal gw terapkan, hehe… Doakan saja.

p.s.:
Saya tidak sejorok itu kok sodara-sodara. Saya hanya suka membersihkan yang ‘kelihatan’ saja, dan cenderung menunda-nunda untuk membersihkan sesuatu yang tidak kelihatan, macam: bagian dalam lemari, isi laci, kolong tempat tidur ;p

Happy Birthday, and cooking coupon

Beberapa hari ini dibuat bingung, karena gatau mau ngasih apa sebagai kado ulang tahun seseorang :”>. Beneran deh, pilihan kado untuk cowok tuh kok kayaknya terbatas ya. Apalagi kalau dia tipe yang “kalau ga butuh, ya ga pengen dan ga usah beli” -_-. Jadi bingung deh… Lagipula, mau beli sesuatu kok gw takut seleranya ga cocok ya, hahah, susaaah.

So, setelah merenung dan mandi kembang 7 hari 7 malem *lebaay*, akhirnya gw mendapat wangsit. I’ll give him, ‘my cooking’ coupon!! 🙂

Ada dua tipe, regular dan special. Bedanya? Yang jelas bukan soal rasa. Misalnya, yang regular rasanya biasa aja, yang special rasanya maknyuuus. Karena rasanya dijamin bakal sama aja, maklum, amatir ;p. Bukan juga soal porsi, yang special porsi jumbo misalnya ^^;

Bedanya adalah, yang regular menunya sudah ditetapkan. Tentunya menu-menu andalan, a.k.a yang gw pede bisa dan rasanya oke *menurut gw*, hohoho. Sedangkan yang special, menunya masih kosong, blank, bisa diisi sesuka hati. Di sini nih tantangannya, karena gw ga boleh nolak memasakkan apapun yang ditulis di situ >.<. Tapi gapapa, sekalian belajar, hehe…

cooking coupon


*Terms & Condition:

  1. Valid only from March 2010 to February 2011, and can’t be used on December 25 *coz that’s my birthday :”>*.

  2. Can’t be used hastily. If you want to use it, for regular coupon please tell at least 1-2 days before, and for special coupon please tell a week before *I have to browse for the recipe and practice it first ;p*.

  3. Whatever the flavor of the outcome is, please tell me the truth so that I can be a better cook *but without hurting my feelings, if you can*.

  4. Lastly… Mood is such an essential factor in cooking, bad mood can result in terrible food. So, use it wisely ^^

Call +62 812 8130xxx or +62 251 9372xxx for more information.


Berdasarkan pengamatan gw dan diperkuat oleh tulisan ini, entah kenapa cowok itu kok kayaknya pengen dan seneng banget ya kalau dimasakin ^^; Atau setidaknya kalau kita ‘berusaha memasak’ untuk dia, masalah rasa urusan belakangan. Well, sepertinya untuk para pria istilah “dari perut naik ke hati” benar adanya ;p

Semoga kado ini menjadi kado yang spesial ^^ Walaupun modalnya ga nyampe sepuluh ribu perak, hihi.. Apalagi dengan mempertimbangkan bahwa gw ga terlalu doyan masak -_- doyan makan iya…

Last but not least, happy birthday to you!!! Hope that everything you wish for will be come true.

Hugs and kisses :”>

Simply Toss a Coin

*picture taken from here*

I think it’s true, hummmh… worth a try ^^

I.Love.You.

There is a saying,

“There come times, in the context of love, when we must learn to let go.”

But what if, it’s chocolate that we’re talking about? I looove chocolate. Letting go?? Hell no!!! Chocolate will never fail to make me happy 🙂 It always brings me back my mood that’s somehow able to escape from me.

Well, there are times when chocolate let me down. During highschool, it made my face full of freckles ;p I had to say goodbye to my beloved Snickers, Cadbury Black Forest, M&M, Silver Queen *ooops, advertisement detected eh? Sorry, too lazy to censor it ;p*.

But goodbye is not for long, coz I think, chocolate loves me now, haha.

So, in this occasion, I want to say…

Happy Valentine, dear chocolate, in whatever form you take.

Giving you to someone else in Valentine’s Day? No way 🙂

Coz I want you for myself.

Please, be always there for me when I need you.

Love you ;p”

*picture taken from here*

Room Makeover Project #1: My Dream

Do you wanna know, what I’ve been dreaming of recently?

mydream1

Here, take a closer look…

mydream2

Yep, Europe… I’m coming!!! ^^

This project made me go to bed *for real ;p the first picture was just me acting sleep* at 2 o’clock in the morning. But this morning I woke up fresh and happy, maybe it’s caused by the wonderful dream I had ^^

Inspired by Katie with her super-creative thoughts 🙂

Huru Hara Pagi

Pagi ini…

Terjadi sebuah kebodohan sodara-sodara T____T

Jadi ceritanya,
karena sisa nasi makan malam masih ada, jadi diputuskan untuk disimpan untuk sarapan pagi ini. Lauk? Tenang sajaa, masih ada sisa sarden ;p

07.35
Turun ke bawah, ambil sarden di kulkas. Begitu masuk dapur, ternyata kompor dua-duanya lagi dipake masak sama ibu kos. Yowes, masukin mangkuk isi sarden ke microwave, set timer. Hummmh, berapa ya enaknya?? Set 4 menit saja. Start. Buru-buru naik ke atas, lanjut siap-siap.

07.40
Turun ke bawah, selama turun tangga tercium bau sarden. Tapi aneh, kok wanginya ga biasa. Begitu sampai bawah, bapak dan ibu kos lagi berdiri di depan microwave. Mulai curiga >.< “Kenapa Bu? Gosong ya?”. Dan ternyata benar sodara-sodara! Huks… Ga cuma sardennya telah mengering menghitam, tapi seluruh bagian dalam microwave penuh percikan-percikan sarden. A total mess T_____T.

07.41
Setelah 1 menit terdiam terpaku memandang kekacauan yang ga keruan itu *ga sempet difoto sih*, panik. Terdengar suara ibu kos “Sudah mbak, ambil aja mangkuknya, nanti saya bersihin”. Akhirnya keluarin mangkuk sambil “aw! aw!” karena kepanasan, berharap masih bisa dimakan. Ga bisa, tidak ada harapan. Lalu lalu, ibu kos dengan baik hatinya menawarkan “Ini mbak, sarapan nasinya pake kuah ini aja”. Tadinya sempet ragu, tapi perut berkata lain ;p.

07.43
Buang sarden gosong nista itu. Ambil nasi, dan menikmati sarapan nasi dengan kuah yang dimasak ibu kos, yang ternyata pedes. Tapi gapapa, yang penting perut kenyang dan bisa memulai hari dengan hati senang ^^.

07.45
Berangkat ^^

Tapi tapi…
Ibuuuuuu… saya maluuu. Masa, memanaskan sarden dengan microwave saja saya… gagal?

Family Gathering dan Monyet Jutata

Akhirnyaaa.. bersua kembali dengan blog tercinta, setelah beberapa hari ga bisa ngeblog karena bandwidth limit-nya udah kelewat >_<. Hummmh, jadi pengen upgrade lagi ;p

Anyway, akhir minggu kemarin gw pulang ke Bogor, karena ada acara makan-makan keluarga besar, di rumah Eyang Kakung. Nyaris full team, kurang: Om Mahdi & Luthfi di Aceh, Pupule yang lagi asik fesbukan di Tarakan *hihi*, dan Ditul yang lagi sibuk tryout demi mengejar cita-cita *semangat, sist!! kan kalo situ jadi dokter, sini bisa berobat gratis ^^*. Dalam rangka? banyak..

Syukuran wisuda sepupu *if you read this, Dhika, congratz!! OOT: wisuda UI ada live streaming-nya ya, kereeen…*, anniversary Pakdhe Rhiza & Budhe Erna, ulang tahun Mumule & Lek di bulan Januari, 10 tahun Eyang Putri meninggal, dan 5 tahun sejak tsunami di Aceh :'( *Tante Koekoek, Maurin, & Tazki, may you all rest in peace*.

Great feast!! Sayang ga ada lumpia makassar >.< maklum, udah ngidam dari kapan tau. But it’s okay, toh makanannya udah banyak, sampe rasanya ga bisa bangun dari duduk saking kenyangnya.

Tentang family gathering sudah, lanjut ke ‘monyet jutata’. Jadi, entah kenapa tiba-tiba nostalgila itu dimulai *kayaknya gara-gara gw iseng nggigit tangan mum, hihi*. Dan cerita pun mengalir.

Konon katanya, beberapa minggu *atau bulan?* setelah gw lahir di Bogor, langsung diajak terbang ke Juata, Tarakan. FYI, Tarakan adalah sebuah pulau di Kalimantan Timur. Ya, pedalaman, yang katanya mau ke TK aja harus naik turun gunung, haha. Tapi sekarang udah lumayan modern kok *iya ga, Pul?*, walopun masih ga ada Twenty One :D.

Gw ga inget sama sekali tentang masa kecil gw selama beberapa tahun di sana. Tapi, dari cerita orang-orang dan foto-foto, bisa tergambarlah masa kecil gw. Teman bermain seringnya hanya kucing ^^; Di hampir setiap foto pasti ada kucing yang setia menemani gw bermain.

Lalu, bakat omnivora gw mulai tampak ;p. Buktinya, katanya gw hobi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut. Sebutlah, luwing *tau kan, sejenis kaki seribu ya kalo ga salah?*, abu rokok, dan sebagainya. Owh, lagu favorit gw waktu itu: ‘Isabela adalah…’.

“Isabela adalaaah… kisah cinta dua duniaaa…”

Nah, setiap akhir tahun, kami pulang ke Bogor, sekaligus merayakan ulang tahun gw. Di Bogor, ada sepupu yang seumuran *setahun di bawah gw*, lucu banget. Kulitnya putih, tembem, montok, rambutnya kriwil-kriwil. Mungkin, karna gw jarang ketemu yang kayak gitu di Juata, jadi gemes. Dan terjadilah insiden itu sodara-sodara. Katanya sih, gw gigit tangannya sampe berbekas dan berdarah *ah, gw tau ini yang cerita pasti lebay, ga mungkin anak kecil seimut gw bisa nggigit sampe berdarah ;p*.

Dan karena nama panggilan gw di rumah Tata, mulai sejak saat itu, gw mendapat julukan dari Eyang: Monyet Jutata ^^; sial…