Secercah Fiksi

“Aku benci kamu!” Terucap kalimat itu walau aku sendiri pun tak tahu seperti apakah hati yang membenci itu. Apakah hati ini bisa dikatakan sedang membenci? Mungkin ini hanya kegilaan sesaat, ketika otak berpikir bahwa hati sudah merasa sangat tersakiti. Luka, walaupun hanya goresan halus, jika berulang-ulang bukankah akan menjadi semakin dalam? Lalu kau pun menjawab, “Jika dengan membenciku bisa membuatmu merasa lebih baik, maka silahkan saja”. Mendengar jawaban itu, rongga napasku malah menjadi semakin sesak. READ MORE