Monthly Archives: July 2010

Movin’ Groovin’

Fyuhh, sore ini sibuk pindahan… angkut-angkut PC, monitor, laci, dkk. Dan akhirnya selesai juga ^^. Here it is, my new work station! *work station, tapi yang tampak di monitor: twitter :))* Masih belum ada sekatnya, jadi masih terlihat luas, dan pemandangan orang yang wira-wiri di lorong jalan terlihat jelas ^^;

Salah satu hal yang paling diantisipasi dari posisi tempat duduk baru adalah: dimana bos berada. Perlu dan penting banget ini, untuk menyusun strategi demi kenyamanan ber-internet ria ;p. Ups…

Dekat sekali!!! *yang dilingkari merah itu loh* >_< But it’s OK, segala gerak-gerik mencurigakan dari beliau bisa terpantau dari sini :))

Satu hal yang bikin sedih adalah… Ini mungkin menjadi ‘pindah meja’ terakhir saya. Dan hanya tinggal sekitar 2 minggu lagi waktu yang tersisa untuk beradaptasi dan menikmati posisi baru ini :'(

Tarakan, Dulu dan Sekarang (part 2)

Tarakan sekarang, sudah lebih maju! Sudah ada mall, Grand Tarakan Mall, walaupun tak sebanding dengan mall-mall di Jakarta. Sayangnya belum ada Studio 21 apalagi XXI, makanya Pupule tiap pulang ke Bogor pasti mborong DVD. Ada universitas juga, gedungnya megah besar, Universitas Borneo Tarakan namanya. Tapi kayaknya kuliah di situ minimal harus punya motor atau tebengan motor ^^; Jauuuh banget dan ga ada (atau jarang?) angkot yang lewat.

Di jalan, banyak terlihat tulisan ‘Milo’. Restoran Milo, Toko Milo, Milo Bakery, Warung Kopi NesMilo. Menurut Pupule, itu semua pemiliknya bersaudara. Kenapa Milo? Karena konon, dulu tokonya menjual susu Milo impor dari Malaysia, jadi terkenal dengan nama toko Milo. Dan akhirnya buka cabang macam-macam juga menggunakan nama Milo. Karena dekat dengan Malaysia, snack di Tarakan kebanyakan memang Malaysia punya.

Di tengah kota ada hutan kota, mirip Kebun Raya Bogor, tapi yang ini isinya hanya pohon mangrove alias bakau. Judulnya Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan. Sayangnya, menurut pemandu di situ, bekantan termasuk hewan pemalu. Jadi susaaah banget kalau mau melihat mereka dari dekat. Sempet lihat sih dari jauh, lagi pada ngumpul arisan, eh… makan pisang. Terpaksa puas hanya dengan patungnya ^^;

Empat hari di sana, saya mabok seafood! Kakap asam manis, sup perut ikan kepiting *perut ikan itu maksudnya kulit ikan bagian perut yang dikeringkan, terus dimasukkan ke dalam sup jadi kenyal-kenyal*, ikan kerapu bakar, bubur ikan, kepiting lada hitam, kepiting asam manis, udang galah Tarakan yang besar-besar itu, cikong *kaki kepiting tanpa kulit yang dibalut tepung jadi kayak tempura*. Nyammm.

Maaf, tak ada foto-foto makanan. Karena begitu makanan datang langsung diserbu, dan begitu ingat untuk mengabadikan, sudah ludes tak bersisa.

Tak ada menu ayam selama kami di sana, paling burung dara goreng. Dan saya dikenalkan pada sayur yang langsung jadi sayur favorit. Rasanya manis, segar. Sayur pucuk namanya. Entah pucuk tanaman apa, Pupule ditanya juga tak tahu. Di hari terakhir kami sarapan Coto Makassar ^^; Di sana memang banyak pendatang orang Bugis, bahkan ada daerah yang jadi perkampungan Toraja. Sedangkan suku asli di Tarakan suku Tidung namanya.

Rumah dinas Pupule yang sekarang ada di tengah kota Tarakan, bukan di Juata Laut. Tapi tetap saja, banyak keluwing asik berjalan-jalan di dalam rumah :)). Satu kompleks dengan kantornya, hanya berjarak beberapa meter. Enak deh, mau ngantor tinggal loncat, jam istirahat bisa pulang dulu ke rumah *ngiri ;p*. Ada di atas bukit, jadi dari belakang rumah kelihatan pemandangan kota, plus laut di kejauhan.

Langit Tarakan jauuuuuh lebih luas daripada langit Jakarta *mungkin karena ga ada gedung-gedung tinggi*, dan lebih biru jernih, dengan gumpalan awan yang terlihat jelas *tak seperti langit Jakarta yang keabuan tertutup asap*. Bahkan, di suatu pagi, waktu kami jalan-jalan keliling kompleks, ada pelangi!

Apalagi langit pagi di Pantai Amal. Wuihhh. Pasir pantainya memang tidak seputih pantai-pantai lain. Dan karena laut lagi surut, pasirnya kotor. Tapi langitnya… indescribable.

Saya jatuh cinta pada langit Tarakan.

Dibandingkan langit Bogor? Hummmh, di Bogor banyak pohon, jadi hampir semua langit tertutup pohon. Dan di Bogor banyak angkot, jadi udaranya juga sudah tercemar asap. Dan di Bogor sering hujan *namanya juga kota hujan*, jadi langitnya sering berwarna mendung.

Di malam terakhir kami bakar-bakar ikan di halaman belakang rumah. Langit penuh bintang! Sayang kamera tak sanggup mengabadikan.

Empat hari di Tarakan, mengenang kisah 20 tahun yang lalu dan menulis kisah untuk dikenang 20 tahun mendatang. Tarakan, dulu dan sekarang…

Tarakan, Dulu dan Sekarang (part 1)

Tanggal 8-11 Juli kemarin saya berkesempatan mengunjungi Pulau Tarakan, sebelum saya dan adik sibuk dengan urusan kuliah. Mengunjungi Pupule yang sudah 6 tahun terakhir ini dinas di sana lagi ^^; Dulu, kami pindah dari Tarakan ke Surabaya di pertengahan tahun 1990. Jadi saya sudah tidak melihat Tarakan selama… tepat 20 tahun! Mungkin nanti akan nostalgia ke sana lagi 20 tahun mendatang, bawa anak :)) *amiiin*

Empat hari itu, rasanya penuh dengan kisah-kisah jadul. Walaupun waktu itu saya masih kecil dan rasanya ga banyak ingat apa-apa. Tapi dari cerita orang-orang selama perjalanan rasanya saya bisa membayangkan masa kecil saya.

“Nih, Ta… Dulu, jalan daratnya keputus cuma sampai Puskesmas sini. Jadi harus naik longboat.”

“Serem naik turun longboat-nya. Tangganya yang tegak lurus itu, yang bolong-bolong. Padahal mamamu sambil gendong bayi.”

Menurut cerita Pupule dan Mumule, 4 bulan setelah saya lahir, langsung diboyong ke Pulau Tarakan, Kalimantan Timur. Tinggal di dekat kantor Pupule, sebelah utara pulau, di pinggir laut, nama daerahnya Juata Laut. Untuk sampai ke kelurahan tersebut, tak ada akses jalan darat dari kota Tarakan *tempat bandara Juwata berada*, jadi… harus naik longboat selama 1 jam *muterin pulau*.

“Waktu itu, ada selametan di rumah tetangga. Selesai acara, mama jalan pulang ke rumah sambil gendong kamu. Rumah masih jauuuh di atas sana. Tiba-tiba di tengah jalan, kamu lihat ada kucing.

Terus kamu ngerengek minta mpus-nya ikut. Akhirnya mama ambil, terus mama taruh di dalam gendongan sama kamu, ikut digendong pulang. Itulah si Mpus yang selalu nemenin dan njagain kamu main.”

Gyahahaha… Mungkin gara-gara itu saya jadi ga bisa lepas sama bulu kucing sampai sekarang, bawaannya pengen unyel-unyel terus ;p. Anyway, hampir di setiap foto di Juata memang selalu ada itu si Mpus.

Lanjut, salah satu kisah paling favorit tentang saya di Juata adalah… makan keluwing!

“Masih pagi, papa mama belum bangun, kamu udah bangun sendiri dan langsung merangkak, eh.. merayap keliling rumah. Tiba-tiba kedengeran suara kamu nangis teriak.

Papa mama langsung bangun, lari keluar kamar. Kamu lagi duduk nangis, mulut mangap, sambil lidahnya keluar gitu, di atas lidah ada keluwing lagi mlungker.”

“Kayaknya kepalanya udah hancur deh, jadi mungkin sempet kamu gigit, terus kepedesan.”

“Mama aja nyingkirinnya dari lidah kamu sambil jijik.. hiii…”

“Puntung rokok juga pernah, dimakan. Pas digigit kepedesan, nangis.”

Ehem, sebagai pembelaan… keluwing lagi mlungker itu benar-benar mirip coklat tau! -_- Nih ya, saya lampirkan gambar sebagai bukti. Kalo puntung rokok, ehem, gatau deh, mungkin rasa ingin tahu saya lagi berlebih ^^;

Kisah-kisah nostalgia itulah yang menemani saya selama berjalan-jalan di Tarakan.

(bersambung…)

Sekilas Info

Dalam rangka membayar hutang puasa, saya mau puasa non-stop, tiap hari! :)) Eh, kecuali weekend deh. Maklum, kalau diselang-seling *macam Senin-Kemis* seringnya gagal ^^; Sayangnya tadi pagi, baru bangun jam 5 pagi. Gagal sahur -_-. Tapi akhirnya diniatin puasa, karena malamnya sempet bangun sebentar untuk makan martabak yang hampir dikerubutin semut. Lumayaaan, martabak keju itu kayaknya lumayan untuk pembangkit energi seharian.

Alhamdulillah ga kerasa tuh. Tau-tau udah jam 5 sore aja ^^; Soalnya keasikan nulis tentang jalan-jalan ke Tarakan kemarin. Tapi karena foto-fotonya banyak yang ketinggalan di rumah, nanti aja publish-nya dari rumah.

“Aku udah nulis loh, cerita di Tarakan. Tapi nulisnya ga kayak laporan perjalanan per hari gitu, day #1, day #2, dst.”

“Ceritanya loncat-loncat pasti. Kamu kan kalo cerita hobinya loncat-loncat. Ga jelas alurnya.”

“Enak aja, aku bikin ceritanya mengalir tau. Aku kan kalo nulis selalu diusahain mengalir gitu alurnya.”

“Ahahaha… Iya, ngalir kayak sungai yang bercabang-cabang, banyak anak sungainya. Bentar ke sini, terus ke situ. Oh, atau ngalir kayak air ditumpahin gitu… byurrr, kemana-mana.”

*sigh* -_-

Ya kalau cerita lisan, live, on the spot mana sempet sih mikirin alur. Jelas lah alurnya nggrapyak kemana-mana. Tiba-tiba keinget ini, inget itu. Kalau nulis kan beda, bisa dibaca berulang dan berulang kali terus dikoreksi. Huh.

Anyway, nantikan posting saya berikutnya… tentang Tarakan!! *macam teaser aja*

Ya ya postingan random, makanya judulnya juga random ;p

Masih Seorang Anak Kecil

Masih seorang anak kecil, yang belum bisa mengambil keputusan. Menentukan apa yang sebenarnya diinginkan, lalu bertindak sesuai dengan keputusan yang sudah diambil. Plin plan. Tak bisa menjatuhkan satu pilihan. Belum.

Masih seorang anak kecil, yang merasa marah, sedih, dan kecewa, ketika sesuatu yang dianggap miliknya, bukan menjadi miliknya lagi. Masih merasa bahwa itu adalah miliknya. Salah. Karena sesungguhnya, semua adalah milik-Nya.

Masih seorang anak kecil, yang berimajinasi secara berlebihan. Memandang segala sesuatu dengan menggunakan kacamata fiksi. Mengaburkan realitas yang ada. Imajinasi? Penting. Berlebihan? Tidak perlu.

Masih seorang anak kecil, yang dengan seenaknya membuka mulut, tanpa memikirkan perasaan orang yang mendengar. Dengan seenaknya melayangkan tangan, tanpa memikirkan sakit orang lain yang merasakan. Dengan seenaknya membanting barang, tanpa memikirkan rusaknya manfaat dari barang tersebut.

Masih seorang anak kecil, yang merasa marah dan kesal pada orang lain, karena tidak bisa mendengar isi hatinya sendiri. Padahal, suara-suara kemarahan dan kekesalan itu justru semakin menutupi suara hati.

Masih seorang anak kecil, yang merasa marah dan kesal pada diri sendiri, karena tidak bisa mengendalikan kemarahan dan kekesalan yang ditujukan pada orang lain.

Masih seorang anak kecil, yang belum bisa berpikir secara dewasa,

namun sedang belajar tertatih-tatih untuk menjadi orang dewasa. Dan tidak akan pernah berhenti atau menyerah.

*******

Bukan, bukan puisi. Kan saya phobia menulis puisi 😉 Hanya sedang mencoba salah satu cara untuk mendengar isi hati. Dan mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik *dalam rangka mencapai resolusi 2010* ^^

Hufffh, perjalanan masih panjang tampaknya…

You and Me Song

No particular reason. Just love the song 🙂

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=c7M8gxNGDRU[/youtube]

Lyric?? show

Let’s Trashin’ The Office!

This tunes…

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=d3a42-AXx00[/youtube]

wihich is taken from the ‘trashin the camp’ scene of Tarzan…

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=-rxOVpetZTY[/youtube]

plus 2 bars of these…

usually never fail to boost up my mood again.

Oh, come on! Get your ass out of there, don’t stuck at the same place over and over again… Nothing. You gain nothing.