Monthly Archives: October 2010

Bola-bola Semur!!

Karena sedang melarang diri sendiri untuk mendownload film maupun membuka website untuk streaming film, daaan… lagi suntuk bosen mumet berkutat dengan file presentasi tugas kuliah…

Jadilah saya memberondong blog dengan postingan, hahay, gapapa lah ya pemirsa *sok banyak pengunjung dan pembaca blognya ;p*..

Cuma mau memamerkan hasil karya terbaru *jeng jerengjeng, awas.. perhatikan iler anda jangan sampai membasahi keyboard! :))*

Judulnya.. Bola-bola Semur!! v^^v

Waktu lagi asik browsing makanan di hipermarket terdekat, dan mampir ke Halal corner, tiba-tiba saya menemukan daging segar yang sudah berbentuk bola-bola. Langsung deh beli, walaupun belum tahu mau dimasak apa.

Pikiran pertama sih dicemplungin aja ke sup, jadi kayak bakso gitu. Tapi kemudian saya menemukan satu sachet bumbu instan di lemari dengan judul: bamb*e – Semur, Instant Spices for Indonesia Braised Beef/Chicken. Perfect!! ^^

Sesuai petunjuk, yang perlu dilakukan hanya merebus daging sampai matang. Sisakan air kaldu daging sedikit lalu masukkan bumbu instan. Masak sampai empuk. Harusnya sih ditambah kentang ya, sayang ga punya. Jadinya cukup ditambah bawang merah saja. Hasilnya? Nyammm, maknyoss 🙂

Waktu makan-makan di residence bersama teman-teman dari negara lain *ceritanya dalam rangka Halloween party ;p*, saya turut menyumbang hidangan ini. Dan mereka bilang enak 🙂 syukurlah…

Jadi pengen bikin rendang… *optimisme tingkat tinggi :))*

Mendadak Insomnia

Rasanya saya bukan seorang yang susah tidur. Cukup beberapa menit kepala beralaskan bantal, pasti sudah langsung terbang ke dunia mimpi. Well, kecuali di malam-malam ketika besoknya adalah hari yang penting, dan saya terlalu excited (atau nervous) untuk tidur.

Tapi di sini…

Setiap malam, susah banget mau tidur, huks T___T. Bolak-balik badan, telentang, tengkurep, tendang selimut, tarik selimut… ga ngaruh. Biasanya itu berlangsung selama 1 jam, terus biasanya nyerah dan buka laptop sejenak, nonton atau browsing. Nah, habis itu baru deh bisa tidur.

Awalnya kirain karena bantalnya cuma ada satu, kecil pula. Padahal saya terbiasa tidur dikelilingi 3 atau 4 bantal, plus 2 boneka. Makanya saya beli satu bantal lagi, kecil juga sih… abis mahal -_-. Itu juga belinya yang diskonan. Tapi ternyata, ga ngaruh juga tuh.

Dan saya pun nyadar *jleger jleger*

I can’t sleep without my dearest… guling!!!

Sang guling yang setia menemani saya sedari SMA (atau SMP?)

Sang guling yang menghapus kerinduan saya pada rumah waktu ngekos di Bandung, dan Cikarang

Sang guling yang tak pernah mengeluh walaupun selalu saya peluk erat-erat *yea iyealah*

Sang guling yang waktu isi kapuknya diganti oleh si mamah, membuat dia jadi lebih bantet tak lagi lemah gemulai *karena kapuk baru*, saya ngambek, menendang dan melempar bantal-bantal dan guling baru itu ke lantai, dan tidur tanpa bantal guling *ahaay, childish banget ya ^^;*

Eh, bener ga ya kejadiannya kayak gitu, lupa. Maklum, memori saya sudah terlalu banyak bad sector. Si mamah yang ingatannya seperti gajah pasti lebih tahu.

Anyway, saya yakin walaupun beli guling di sini, pasti ga akan bisa menggantikan sang guling tercinta itu. Mana ada guling isi kapuk di sini >_<. Pasti adanya guling besar isi busa yang ga enak buat dipeluk. Jadi, ehem…

Mumule tersayang… Bisa ga minta tolong kirimin guling Ta ke sini? Ga mungkin ya? T____T *ya ya, permintaan ga masuk akal*

Sigh, harus membiasakan diri, lama-lama juga terbiasa… Amin.

Cuci Mencuci

Laundromat.

Alias self-service laundry. Banyak bertebaran di mana-mana. Mungkin karena di sini ga ada bisnis laundry kiloan yang murah meriah ;p. Karena ga boleh jemur baju di dalam kamar *well, ga bakal ketahuan sih, jadi kadang suka bandel ;p* apalagi di jendela, jadilah dua minggu sekali saya pasti mengunjungi laundromat.

Di dalam residence ada *walaupun jauh mblusuk di dalam basement*, di luar juga banyak. Harganya? Hampir sama. Kalau di luar: mesin cuci dengan kapasitas 6 kilo €3.50, pengering (10 menit) €0.20. Sedangkan di residence: mesin cuci dengan kapasitas 5 kilo €3.50, pengering (60 menit) €0.20. Jelas lah saya pilih di residence ^^.

Tapi… laundromat di residence harus menggunakan koin khusus, yang bisa dibeli di resepsionis residence. Jadi kadang kalau lagi sibuk-sibuknya kuliah, ga sempet ketemu sama madame resepsionis *berangkat belum buka, pulang udah tutup*. Jadi terpaksa deh ke laundromat di luar.

Waktu minggu-minggu awal di sini, ada pengalaman lucu dengan si laundromat ^^;. Saya dengan teman saya mau mencoba laundromat untuk pertama kalinya. Kami lihat di dinding ada panel dengan slot untuk memasukkan koin, dan tombol-tombol berlabel nomor, yang berasosiasi dengan nomor mesin cuci/pengering. Lalu… kami coba memasukkan koin-koin sebesar €3.50, dan dengan pede memencet tombol salah satu mesin cuci yang tidak terpakai.

Mesin cuci mulai mendengung, dan mulai mengisi dengan air. Saya dan teman berpandangan, karena mesin cuci yang bekerja itu… kosong! :)) Lalu kami pun kabur dari situ, meninggalkan si mesin cuci itu bekerja sia-sia *maaf yaa >.<*.

Lesson learned: masukkan baju kotor dan deterjen ke dalam mesin cuci sebelum memencet tombol apapun ^^.

Pertama kali mau mencoba mencuci di residence, kalau ga salah jam setengah 6 sore. Sampai di depan pintu ruang laundry, pintunya dikunci -_-. Masa sih ya ada jam buka-tutup nya, apa boleh buat, batal deh mencuci hari itu. Besoknya, ke sana siang-siang, dan masih buka, fyuh.

Lesson learned: kalau mau mencuci di laundromat residence harus siang-siang. Oh ya, satu lagi, mending ditinggal aja ke kamar, serem nunggu sendirian di basement, lama pula.

Hari ini, karena cucian sudah menumpuk, waktunya nge-laundry lagi. Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, kali ini saya sudah bisa dibilang pakar percucian :)). Sambil menunggu, karena mesin cuci bekerja selama 30 menit, saya main-main di ruang musik. Iseng tang-ting-tung di piano, baca majalah, dan sempet ketiduran juga ^^;.

Setelah kira-kira setengah jam lebih, kira-kira jam 4 sore, saya turun ke basement lagi, untuk memindahkan cucian dari mesin cuci ke mesin pengering. Ternyata… pintunya dikunci! Uh oh, tutupnya jam segini ya ternyata. Tapi… itu cucian gimana nasibnya?? Huks…

Sebelum balik ke kamar, mampir dulu ke resepsionis, tanya jam buka-tutup ruang laundry. Siapa tahu besok pagi sebelum kuliah sempat mengambil cucian yang menginap di basement. Madame resepsionis pun menjawab: “It’s not closed, you can open and lock the laundry room with your room key”.

Oh.

*doeeeenggg*

Another lesson learned ^^.

Sudah hampir 2 bulan di sini, dan masih ada saja yang harus dipelajari *dan sebaiknya ditanyakan daripada salah paham terus rugi sendiri ;p*. Manusia memang tidak akan pernah berhenti belajar :).

Love Like Woe!

Entah mengapa lagu ini sering terdengar di radio, dan aku sukaaa… ^^ Udah gitu, terobsesi bisa menyanyikan liriknya dengan sempurna, tanpa kehabisan napas :)) Susah boook! *pengaruh jarang olahraga kayaknya, napasnya pendek-pendek, hihi* Dan kadang lidahnya masih suka keseleo… Love Like Woe by The Ready Set, enjoy!!

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=oh6Oz-L156c[/youtube]

Lyric?? show

Beasiswa Erasmus Mundus 2011

All roads lead to Rome – banyak jalan menuju Roma.

Tepat setahun yang lalu saya memulai perburuan saya dalam mengejar beasiswa ini, dalam rangka berusaha mencapai salah satu mimpi ^^. Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi, langkah demi langkah yang saya tempuh. Dengan kata lain, apa saja yang saya lakukan dalam rangka mengejar beasiswa ini. Sehingga akhirnya, jalan menuju Roma itu, alhamdulillah saya temukan ;).

Bagi yang tertarik dengan beasiswa ini, saya siap menjadi sumber informasi. Good luck!!

Link:

Sunyi Sepi

Ya ampuuun, sepi banget ya ini blog… Kasian ^^; Okelah kalau begitu, mulai sekarang saya akan benar-benar membagi posting sama rata supaya di sini juga ikut diisi.

Ciao!!

Meniti Jalan Menuju Roma (part 3)

Langkah Ketiga – Surat Rekomendasi

Salah satu persyaratan yang hampir pasti ada di setiap program adalah: letter of recommendation. Biasanya program meminta dua orang sebagai referral, alias yang memberikan rekomendasi. Salah satu yang paling memungkinkan adalah dosen wali waktu kuliah atau dosen pembimbing tugas akhir (skripsi). Atau mungkin juga atasan di tempat bekerja.

Karena bidang program yang saya incar sesuai dengan tugas akhir saya waktu kuliah S1, jadi saya minta tolong pada dosen pembimbing untuk memberikan rekomendasi. Lagipula, kebetulan waktu itu tugas akhir saya merupakan bagian dari riset sang dosen pembimbing. Satu rekomendasi lagi saya minta tolong pada dosen yang ikut serta di riset yang sama. Fyuh, pas! 🙂

Perlu dicermati bagaimana prosedur pengiriman surat rekomendasi, karena sepertinya berbeda untuk setiap program. Di program LCT, pada saat aplikasi yang perlu dicantumkan hanya alamat email sang referral. Jadi sang referral harus mengirimkan sendiri surat rekomendasi via email, atau snail mail (surat biasa). Di website LCT dicantumkan ke mana surat tersebut harus dikirimkan, juga template surat rekomendasi yang harus dikirim.

Jadi, untuk surat rekomendasi saya cuma bisa minta tolong, lalu kemudian memastikan bahwa sang referral sudah mengirimkan email berisi surat rekomendasi tersebut. Bagian memastikan ini penting hukumnya, karena waktu itu, seminggu sebelum deadline saya bertanya pada bapak dan ibu dosen apakah emailnya sudah dikirim, dan ternyata… belum ^^;.

Langkah Keempat – Aplikasi Online

Untuk program LCT, pertama-tama kita harus mengisi form online dengan data-data pribadi, data-data sang pemberi referral, maupun data-data yang berhubungan dengan studi (termasuk motivasi mengikuti program). Di sini saya melakukan satu kesalahan fatal (yang kemudian amat saya sesalkan setelah sampai di sini -_-).

Jadi… teruntuk anda-anda sekalian yang hanya mempunyai satu kata di akta lahir sebagai nama (mungkin sekarang sudah jarang ya), jangan menggunakan nama lain sebagai last name, karena justru last name-lah yang dianggap penting, dan harus sesuai dengan dokumen lain seperti: akta lahir dan paspor.

Saya menuliskan PARAMITA sebagai first name, dan MIRZA (nama ayah) sebagai last name, padahal di akta lahir dan paspor yang tercantum hanya PARAMITA. Seharusnya saya menggunakan nama tersebut baik sebagai first name, maupun last name: PARAMITA PARAMITA. Aneh sih, tapi apa boleh buat ^^; *sempat stress mengurus kesalahan nama ini*.

Setelah mengisi form online, langkah berikutnya adalah meng-upload hasil scan semua dokumen yang diminta sebagai persyaratan. Baca dengan teliti semua persyaratan yang dibutuhkan. Dua hari sebelum deadline (8 Januari 2010), saya iseng membaca lagi semua persyaratan dokumen, dan baru sadar bahwa dokumen hasil TOEFL juga termasuk yang harus diupload. Saya kira karena ETS sudah mengirimkan hasil TOEFL langsung ke program, maka hasil scan dokumen tidak diperlukan lagi, ternyata… perlu ^^;

Langkah Kelima – Menunggu (sambil Berdoa)

Yap, setelah itu, yang bisa dilakukan hanya menunggu hasil pengumuman keluar. Menurut website LCT, hasil pengumuman baru bisa dilihat sekitar akhir bulan Maret.

Tanggal 17 Februari 2010, masuk email baru dengan subject: Erasmus Mundus European Master Program in Language and Communication Technologies (LCT). Rasanya jantung meloncat-loncat seketika, dan dengan tangan gemetar saya klik subject email tersebut. Lalu…

Dear Paramita Mirza,

The EM LCT Selection Committee would like to notify you, by the present letter, that your application has been retained after a number of evaluations and that we are considering your name for an Erasmus Mundus grant.We are contacting you to verify:

1) That you confirm your application to the EM LCT Masters.

2) That you agree to the following allocation of sites for your studies:
Year 1: University of Nancy 2
Year 2: Free University of Bozen-Bolzano (FUB)

3) That you declare that your participation in the EM LCT Masters depends on the allocation of an Erasmus Mundus grant in your name.

Thanking you very much for your consideration in advance, I am really looking forward to hearing from you as soon as possible.

Best regards,
Valia Kordoni
LCT Coordinator

Alhamdulillah 🙂

Jalan menuju Roma pun akhirnya terbuka dengan lebar. Yang bisa saya lakukan selanjutnya hanya berusaha dan berdoa semoga kerikil-kerikil di jalan tersebut tidak akan menghalangi saya untuk terus berjalan…

Semoga anda sekalian juga menemukan jalan anda masing-masing. Good luck!!

Happy :)

 

My favorite song this week…

 

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=1U-Vy-n7tfM[/youtube]

 

Lyric?? show

 

So long sad times, you are now a thing of the past…

My happy days are here again!! ^^

 

Bus, oh bus…

Pagi ini, jam setengah 8 saya sudah lari-lari keluar residence sambil gigit roti sarapan. Yep, kuliah mulai jam 8, jadi harus berangkat setengah jam sebelumnya. Sampai di halte bus banyak orang yang menunggu, pertanda bahwa saya masih belum ketinggalan bus yang biasa lewat jam segitu, fyuhh…

Setelah menunggu agak lama, sekitar jam 8 kurang 15 menit, bus nomor 131 lewat. Terlihat di dalam bus sudah penuh orang, dan si bus pun lewat begitu saja, tanpa peduli orang-orang yang menunggu di halte -_-. Why oh why?? Mungkin karena supirnya menganggap orang yang nunggu kebanyakan dan ga mungkin muat lagi di bus.

FYI, untuk sampai ke tempat kuliah, bisa naik bus nomor 131, 132, atau 133 yang lewat situ. Jadi saya berharap tak lama lagi muncul dua nomor bus yang lain. Tapi sampai jam 8 kurang 5 menit tak kelihatan jua moncong busnya. Orang-orang mulai gelisah, beberapa langsung cabut jalan kaki. Dan tiba-tiba saya pun teringat, kemarin…

saya membaca:

  • tweet dari @merahmerona: “karena besok ada demo (lagi dan lagi), jadi gak ada kuliah..kt bu dosen begitu..”
  • pengumuman di halte waktu lagi nunggu bus pulang: “Mardi, 12 Octobre 2010, 50 pourcent service assure”

Ooh la la! Sial, lupa, padahal kemarin sudah berencana harus berangkat lebih pagi. Karena bus tidak bisa diandalkan kalau lagi ada grève *aka strike, alias demo*, jadi saya memutuskan jalan kaki, sambil sedikit-sedikit nengok ke belakang siapa tahu ada bus lewat.

Sekedar ilustrasi, gambar di atas adalah peta jalur bus. Start point di halte Mansuy Gauvain, kampus terletak di antara halte Désilles dan Baron Louis *biasanya saya turun di Désilles*. Jaraknya… sekitar 3 km menurut Google maps. Lumayan bok! hosh hosh…

Read more »

To brighten up my day…

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=c2KUR5Vi2WU[/youtube]

Why Do You Let Me Stay Here? by She & Him. Lyric?? show

This song was written and sung by Zooey Deschanel, and the music video was a collaboration between her and… Joseph Gordon-Levitt!! Both of them are the co-stars of 500 Days of Summer, my fave movie ^^

… now let’s have a cute dance, just like them, and be happy 🙂