Jigsaw Puzzle dan Akuisisi Pengetahuan

Berasa ngarang judul TA, hahah… Tenang, isinya ga seserius itu kok ;p Ga seserius knowledge acquisition yang satu ini.

picture taken from here

Entah kenapa setelah ujian tadi tiba-tiba terlintas pikiran ini. Bahwa proses pembelajaran itu bisa dianalogikan dengan bermain jigsaw puzzle. Semakin banyak jumlah keping jigsaw puzzle, semakin berat juga materi yang harus dipelajari. Misalnya, jigsaw puzzle 4 keping sebanding dengan mempelajari aritmetika sederhana. Diferensial dan integral? Lebih banyak yang jelas, tapi tergantung kapasitas prosesor alias otak tentunya 😉

Nah, menurut saya, tugas seorang pengajar itu bukan hanya memberikan keping-keping puzzle kepada muridnya, tapi juga membantu sang murid merangkai keping-keping tersebut menjadi satu gambar utuh. Karena itulah inti dari pembelajaran bukan? To see the whole picture. Sebenarnya sang murid juga harus berusaha sih, selama di kelas tidak hanya memunguti keping-keping yang dilontarkan sang pengajar, tapi juga sambil berusaha merangkainya, dan meminta bantuan pengajar jika mengalami kesulitan.

Masalahnya, menurut pengalaman saya belajar di kelas selama ini, mulai sejak SD, SMP, SMA, hingga kuliah, yang terjadi justru sebaliknya. Ya, menurut saya ada yang salah dengan kurikulum pendidikan jaman dulu, ga tahu deh kalau sekarang ;p. Tapi yang jelas, mungkin karena pengaruh metode pengajaran “disuapi” ilmu oleh guru, saya jadi terbiasa hanya memunguti keping-keping yang terlontar, dan tidak berusaha merangkainya (di kelas). Bahkan tak jarang di kelas justru tidur atau memikirkan yang lain. Keping-keping puzzle? Aaah, ada slide-nya ini, gampang ;p

Kalau gambar akhir jigsaw puzzle tersebut menarik –setidaknya menurut bayangan saya–, biasanya jauh-jauh hari sebelum ujian, atau mungkin malah langsung setelah kelas usai, saya bisa asyik merangkai keping-keping tersebut. Kalau membosankan, bisa dipastikan semalam sebelum ujian baru deh saya sibuk merangkai. Untungnya kalau sudah asyik merangkai bisa nonstop berjam-jam, kecuali kalau gambarnya benar-benar membosankan, bisa-bisa ga jadi. Kalau sudah begini jangan harap deh ujian nilainya bagus ^^;

Tentunya tak semua keping bisa didapat sekaligus di kelas. Tapi dengan teknologi jaman sekarang, keping-keping yang hilang tersebut bisa didapat dengan mudah. Hanya dengan mengetikkan kata kunci di mesin pencari… et voila! ^^

Sekarang yang jadi masalah adalah, tidak semua jigsaw puzzle bisa dirangkai dengan mudah, sendirian. Di sinilah pengajar harusnya berfungsi. Misalnya dengan memberikan gambaran bagaimana kira-kira hasil akhir dari jigsaw puzzle tersebut. Atau setidaknya memberi petunjuk “kumpulan keping yang berwarna biru ini letaknya ada di pojok kanan”. Menurut pengalaman saya, tidak semua pengajar memiliki kemampuan ini, atau merasa bahwa muridnya juga membutuhkan ini.

Kelak, saya berharap bahwa saya bisa menjadi seorang pengajar yang tidak hanya asal melontarkan keping-keping jigsaw puzzle, tapi juga membantu murid-muridnya merangkai keping-keping tersebut dengan kemampuan mereka sendiri. Karena proses belajar itu sesungguhnya menyenangkan, seasyik bermain jigsaw puzzle 🙂 Dimulai dari diri sendiri dulu deh, mengubah pola pikir belajar di kelas ;p

*Tapi tapi, sesungguhnya niat saya masih terombang-ambing antara mau menjadi dosen atau mencari kerja bergaji mata uang asing, atau… keduanya? XD  …coz I’m not that good at talking, let alone explaining :(*

  1. jadi guru pendiam aja 😛

  2. eh, maksudnya dosen 😀

  3. ahaha.. begimane caranye jadi dosen pendiem ^^; teknik andalannya nyuruh mahasiswa presentasi sepanjang semester gitu yak ;p

  4. hm.. I think some IF lecturers are less talkative than you, mit 😀

Leave a Comment

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>