Bahasa Ibu, Bahasa Indonesia

gambar diambil dari sini

Baru-baru ini saya membaca artikel yang ditulis dengan sangat apik, tentang kecenderungan masyarakat Indonesia masa kini yang mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, supaya terdengar lebih cerdas dan modern. Jangan salah, walaupun saya jauh di sini, masih kok memantau berita gosip di Indonesia, dan rasanya miris banget mendengar gaya bicara si Vicky Prasetyo.

Lalu entah mengapa saya pun tertantang untuk menulis sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, yang ternyata… susah ya bok ^^. Apalagi akhir-akhir ini saya lebih sering menggunakan bahasa Inggris, terutama dalam kegiatan akademik dan interaksi sosial, plus sedikit bahasa Italia *dikiiit… banget! :D* di kehidupan sehari-hari. Jujur saja, untuk beberapa kata saya hampir menggunakan bahasa Inggris, dan terpaksa membuka Google translate untuk mencari padanannya dalan bahasa Indonesia, sebut saja: trend, intellect, fully, dsb. Beberapa kata dalam bahasa Inggris memang sudah terasimilasi dalam bahasa Indonesia jadi rasanya wajar saja ketika kita menggunakan kata tersebut, contohnya modern.

Saya kadang takut, kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia, karena jarang dipakai. Untuk bicara sehari-hari sih sepertinya ga akan lupa ya, karena masih sering telepon keluarga *diusahakan tiap minggu >.<*, dan di sini juga kadang bikin acara kumpul dengan sesama penghuni orang Indonesia untuk sekedar makan-makan dan ngobrol asik. Waktu minggu lalu saya makan di restoran Indonesia di New York, dengan otomatis saya memesan makanan pakai bahasa Indonesia, karena si mas pelayannya mukanya Jawa banget ^^.

Nah, untuk menulis nih, kayaknya harus dipaksa menulis dalam bahasa Indonesia paling gak sebulan sekali, formal dan informal. Rasanya sekarang mengeluarkan pikiran pakai bahasa Indonesia sudah gak selancar dulu, lebih mengalir gitu rasanya kalau bercerita pakai bahasa Inggris. Ini aja kelihatan banget ga konsisten, kadang formal kadang informal, hahah :D. Haduuuh… Tapi tetap berusaha konsisten sih, satu kalimat harus hanya dalam satu bahasa, ga dicampur-aduk.

Intinya, walaupun sudah sukses menguasai bahasa asing, jangan sampai deh melupakan bahasa ibu. Untuk bisa menguasai bahasa kedua memang otak kita harus melupakan bahasa pertama, tapi hanya untuk sementara (baca di sini). Dan kalaupun memang suatu saat ternyata bahasa pertama terlupakan, mungkin kosakatanya saja yang terkubur dan terlupakan, tapi struktur dan sistemnya masih tersisa di otak, sehingga kalau dipelajari lagi bisa lebih cepat dikuasai (baca di sini). Apalagi bahasa Indonesia, sederhana banget tanpa tenses, gender dan inflection *karena ga ada di bahasa Indonesia jadi sepertinya susah mencari padanannya :p*. Imbuhan kata mungkin sedikit lebih kompleks ya aturannya, pernah dengar katanya orang asing sulit memahami kata berimbuhan, apalagi yang informal.

Walaupun sederhana dan kesannya primitif *penjelasan saya ke teman-teman di sini tentang pengulangan kata untuk bentuk jamak di bahasa Indonesia selalu mengundang reaksi, “really? so funny :D”*, tapi saya tetap bangga kok. Hidup bahasa Indonesia!

  1. Referensi kata baku, sinonim, antonim, tesaurus, singkatan, peribahasa di BahasaIndonesia.net

Leave a Comment

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>