Monthly Archives: August 2015

Prasangka Terhadap Pasangan Beda Ras

Mark Zuckerberg and Priscilla Chan. Picture is taken from here.

Sengaja saya tulis dalam Bahasa Indonesia, supaya bisa menjadi pembuka pikiran bagi orang-orang Indonesia yang sering berprasangka buruk terhadap pasangan yang berbeda ras dan warna kulit. Walaupun agak ga mungkin orang-orang bodoh itu mampir ke sini dan baca blog saya, tapi berharap boleh dong ya :p. Saya menulis berdasarkan pengalaman saya sendiri, jadi lingkupnya terbatas untuk wanita WNI yang punya pasangan WNA alias bule.

Sudah sering sih saya membaca postingan blog senada dengan topik yang sama. Cukup googling dengan kata kunci ‘suka duka punya pasangan bule’, dan anda pun akan menemukan berjibun curahan hati para wanita yang teraniaya, tsahhh :D. Jadi, sebelum traveling dengan sang Beruang di Asia, khususnya di Indonesia, saya sudah menyiapkan hati dan mental, tak lupa poker face, supaya tetap tabah dengan hinaan yang mungkin terdengar.

Kasus #1: “Kira-kira ketemu ayam di mana ya?”

Di perjalanan ferry kembali ke Bali setelah mendaki Ijen, ada segerombolan anak SMP/SMA yang mungkin sedang study tour ke Bali (soalnya saya sempet nguping mereka ngomongin tugas tentang budaya di Bali). Dari mereka yang sibuk curi-curi foto selfie dengan sang Beruang, tiba-tiba terdengar pertanyaan itu, “Kira-kira ketemu ayam di mana ya?”

Kalau dipikir-pikir Bahasa Indonesia itu tinggi sekali ya level ambiguitas-nya. Kalau dikonfontrasi langsung, yang ngomong bisa saja ngeles dengan alasan, “Oh, kita lagi ngomongin ayam KFC kok, kira-kira ada di mana ya di Bali” :D. Fakta bahwa mereka bergerombol di sebelah kami, dan kemudian yang diajak bicara oleh orang tersebut memotong dengan, “Hush!”, lalu berbisik-bisik, membuat saya yakin bahwa saya lah yang dimaksud dengan ‘ayam’. Dan seperti yang kita semua tahu, perempuan yang diasosiasikan dengan ayam berarti pelacur (kasihan ya ayam, jadi negatif gitu). See, that’s the power of context for interpreting the meaning of a language 😉

Kasus #2: “Untuk memperbaiki keturunan ya, Mbak.”

Setelah puas snorkeling, canoeing dan hiking selama seminggu di Pulau Tioman, Malaysia, di hari terakhir kami memutuskan untuk relaksasi di spa yang disediakan oleh resort tempat kami tinggal. Ketika para terapisnya tahu bahwa saya orang Indonesia, mereka langsung heboh, “Owalah, lha kami ini juga orang Indonesia!” :D. Selama sesi pijat kami pun tanpa hentinya mengobrol dalam Bahasa Indonesia, karena terapis saya juga sama-sama punya tahi lalat di ‘atas bibir minggir kanan’ seperti saya :). Agak menjelaskan kenapa beliau ceriwis sekali, hahaha.

Obrolan berlangsung tanpa ada prasangka buruk (setidaknya menurut perasaan saya), mereka cuma penasaran bagaimana kami bertemu. “Karena sama-sama belajar di Italia,” saya jelaskan. “Wah, hebat, mahal ya Mbak?” “Beasiswa kok…” “Waaah, berarti pinter banget Mbaknya” :). Cuma ada satu statement yang bikin saya mangkel dikit. “Untuk memperbaiki keturunan” itu memang sudah jadi komentar standar yang sering sekali terdengar ya. Cuma kok seakan-akan kalau ga sama mas bule keturunan saya bakalan jelek dan butuh diperbaiki ya, hiks ;(.

Read more »