Category Archives: Nostalgia

Saya pulang.

Akhirnya, bus Damri yang saya tumpangi berhenti juga. Saya intip sekilas langit Bogor lewat jendela. Mendung. Masih menyandang gelar kota hujan rupanya. Semoga hujannya tidak turun sebelum saya sampai rumah. Turun dari bus saya pun bergegas mengambil koper. Koper mungil, karena sebagian besar barang-barang sudah saya kirim dari sana.

Minta dijemput, naik taksi, atau… naik angkot? Ah, naik angkot sajalah, sudah lama tak merasakan naik angkot. Toh barang bawaan tak terlalu banyak, pikir saya, sambil melangkahkan kaki ke depan gerbang Botani Square. Lalu saya menunggu sejenak untuk menyeberang jalan. Bukannya menunggu saat dimana lalu lintas memungkinkan untuk menyeberang, tapi menunggu ada yang hendak menyeberang juga. Kebiasaan, menyeberang di sini rasanya butuh ditemani.

Sesampainya di seberang, angkot-angkot dengan berbagai nomor trayek berseliweran. Sebenarnya untuk menuju rumah bisa melalui dua rute, tapi saya memutuskan untuk memilih rute yang melewati SMA saya dulu. Walaupun harus jalan sedikit, tak apalah.

Saya agak lupa, angkot nomor berapa yang harus saya naiki ya? Kalau tidak salah… nomor 06, atau 13. Ah, itu dia 06, mari kita coba. Angkot yang saya naiki tetap konsisten di jalur kiri, menyusuri Kebun Raya Bogor, pertanda saya menaiki angkot yang benar.

Read more »

Now & Then: How Much Have We Grown?

The idea came from my sister, while we both have a lot of free time… at home. I mean, when will we have a chance to do silly things like this again? ;p

Some points to conclude…

First, we do still have identical shirts! The difference is, they used to be in different sizes. Now they’re identical to the size, but we have a reason for buying two shirts ;). There is no way we can use one shirt alternately, at least for the next two semesters.

Second, I can no longer hug my sister from behind without standing on my tippy toes. And there is no way to stand upright if I want the camera to also capture my face, not just my hands hugging her *that would be creepy don’t you think?*.

Third, we don’t have identical dresses anymore :(. Well actually, we barely have dresses now *put on shirt/blouse + jeans, then we’re good to go*. Back then, most of our collections of dresses came from our mother’s hands. Now, the sewing machine kinda lose its purpose ;p. The only ‘dresses’ that almost have the same color and design, and of course fit us are… daster batik*!

And lastly… we can still have a good laugh and smile at the end of the day, no matter how hard it is 🙂

*) daster: some kind of pajamas that is very comfortable for sleeping in tropical countries, with hot and humid weather; batik: see here

Nostalgilalala

Saya sedang ingin bernostalgia…

Gara-garanya, iseng menjelajah tumblr seseorang, dan menemukan banyak hal… yang sangat menarik ;p. Bikin ketawa, kagum, bangga, sedih, dan kangen rumah beserta ‘isinya’, walaupun sekarang kayaknya sudah jauh berbeda: ada yang sudah sibuk kuliah, ada yang jadi sering bolak-balik kalimantan, ada yang pensiun, dan terakhir… ada yang… huks. Oh, rumahku… dua tahun lagi bakal jadi apa kalau baru ditinggal 3 bulan sudah seperti ini??

Tapi yang membuat saya tiba-tiba ingin menulis adalah, foto ini…

Rumah kos yang saya tinggali selama 3 tahun di Bandung. Rumah kedua… tempat tinggal ibu kos paling baik sedunia ^^. Kalau sudah penat pulang kuliah, sampai di rumah ini serasa sampai di oasis. Nyaman, tenteram, sampai-sampai kadang saya rela bolos kuliah demi bisa menikmati kamar (baca: tempat tidur) lebih lama :)).

Read more »

Tarakan, Dulu dan Sekarang (part 2)

Tarakan sekarang, sudah lebih maju! Sudah ada mall, Grand Tarakan Mall, walaupun tak sebanding dengan mall-mall di Jakarta. Sayangnya belum ada Studio 21 apalagi XXI, makanya Pupule tiap pulang ke Bogor pasti mborong DVD. Ada universitas juga, gedungnya megah besar, Universitas Borneo Tarakan namanya. Tapi kayaknya kuliah di situ minimal harus punya motor atau tebengan motor ^^; Jauuuh banget dan ga ada (atau jarang?) angkot yang lewat.

Di jalan, banyak terlihat tulisan ‘Milo’. Restoran Milo, Toko Milo, Milo Bakery, Warung Kopi NesMilo. Menurut Pupule, itu semua pemiliknya bersaudara. Kenapa Milo? Karena konon, dulu tokonya menjual susu Milo impor dari Malaysia, jadi terkenal dengan nama toko Milo. Dan akhirnya buka cabang macam-macam juga menggunakan nama Milo. Karena dekat dengan Malaysia, snack di Tarakan kebanyakan memang Malaysia punya.

Di tengah kota ada hutan kota, mirip Kebun Raya Bogor, tapi yang ini isinya hanya pohon mangrove alias bakau. Judulnya Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan. Sayangnya, menurut pemandu di situ, bekantan termasuk hewan pemalu. Jadi susaaah banget kalau mau melihat mereka dari dekat. Sempet lihat sih dari jauh, lagi pada ngumpul arisan, eh… makan pisang. Terpaksa puas hanya dengan patungnya ^^;

Empat hari di sana, saya mabok seafood! Kakap asam manis, sup perut ikan kepiting *perut ikan itu maksudnya kulit ikan bagian perut yang dikeringkan, terus dimasukkan ke dalam sup jadi kenyal-kenyal*, ikan kerapu bakar, bubur ikan, kepiting lada hitam, kepiting asam manis, udang galah Tarakan yang besar-besar itu, cikong *kaki kepiting tanpa kulit yang dibalut tepung jadi kayak tempura*. Nyammm.

Maaf, tak ada foto-foto makanan. Karena begitu makanan datang langsung diserbu, dan begitu ingat untuk mengabadikan, sudah ludes tak bersisa.

Tak ada menu ayam selama kami di sana, paling burung dara goreng. Dan saya dikenalkan pada sayur yang langsung jadi sayur favorit. Rasanya manis, segar. Sayur pucuk namanya. Entah pucuk tanaman apa, Pupule ditanya juga tak tahu. Di hari terakhir kami sarapan Coto Makassar ^^; Di sana memang banyak pendatang orang Bugis, bahkan ada daerah yang jadi perkampungan Toraja. Sedangkan suku asli di Tarakan suku Tidung namanya.

Rumah dinas Pupule yang sekarang ada di tengah kota Tarakan, bukan di Juata Laut. Tapi tetap saja, banyak keluwing asik berjalan-jalan di dalam rumah :)). Satu kompleks dengan kantornya, hanya berjarak beberapa meter. Enak deh, mau ngantor tinggal loncat, jam istirahat bisa pulang dulu ke rumah *ngiri ;p*. Ada di atas bukit, jadi dari belakang rumah kelihatan pemandangan kota, plus laut di kejauhan.

Langit Tarakan jauuuuuh lebih luas daripada langit Jakarta *mungkin karena ga ada gedung-gedung tinggi*, dan lebih biru jernih, dengan gumpalan awan yang terlihat jelas *tak seperti langit Jakarta yang keabuan tertutup asap*. Bahkan, di suatu pagi, waktu kami jalan-jalan keliling kompleks, ada pelangi!

Apalagi langit pagi di Pantai Amal. Wuihhh. Pasir pantainya memang tidak seputih pantai-pantai lain. Dan karena laut lagi surut, pasirnya kotor. Tapi langitnya… indescribable.

Saya jatuh cinta pada langit Tarakan.

Dibandingkan langit Bogor? Hummmh, di Bogor banyak pohon, jadi hampir semua langit tertutup pohon. Dan di Bogor banyak angkot, jadi udaranya juga sudah tercemar asap. Dan di Bogor sering hujan *namanya juga kota hujan*, jadi langitnya sering berwarna mendung.

Di malam terakhir kami bakar-bakar ikan di halaman belakang rumah. Langit penuh bintang! Sayang kamera tak sanggup mengabadikan.

Empat hari di Tarakan, mengenang kisah 20 tahun yang lalu dan menulis kisah untuk dikenang 20 tahun mendatang. Tarakan, dulu dan sekarang…

Tarakan, Dulu dan Sekarang (part 1)

Tanggal 8-11 Juli kemarin saya berkesempatan mengunjungi Pulau Tarakan, sebelum saya dan adik sibuk dengan urusan kuliah. Mengunjungi Pupule yang sudah 6 tahun terakhir ini dinas di sana lagi ^^; Dulu, kami pindah dari Tarakan ke Surabaya di pertengahan tahun 1990. Jadi saya sudah tidak melihat Tarakan selama… tepat 20 tahun! Mungkin nanti akan nostalgia ke sana lagi 20 tahun mendatang, bawa anak :)) *amiiin*

Empat hari itu, rasanya penuh dengan kisah-kisah jadul. Walaupun waktu itu saya masih kecil dan rasanya ga banyak ingat apa-apa. Tapi dari cerita orang-orang selama perjalanan rasanya saya bisa membayangkan masa kecil saya.

“Nih, Ta… Dulu, jalan daratnya keputus cuma sampai Puskesmas sini. Jadi harus naik longboat.”

“Serem naik turun longboat-nya. Tangganya yang tegak lurus itu, yang bolong-bolong. Padahal mamamu sambil gendong bayi.”

Menurut cerita Pupule dan Mumule, 4 bulan setelah saya lahir, langsung diboyong ke Pulau Tarakan, Kalimantan Timur. Tinggal di dekat kantor Pupule, sebelah utara pulau, di pinggir laut, nama daerahnya Juata Laut. Untuk sampai ke kelurahan tersebut, tak ada akses jalan darat dari kota Tarakan *tempat bandara Juwata berada*, jadi… harus naik longboat selama 1 jam *muterin pulau*.

“Waktu itu, ada selametan di rumah tetangga. Selesai acara, mama jalan pulang ke rumah sambil gendong kamu. Rumah masih jauuuh di atas sana. Tiba-tiba di tengah jalan, kamu lihat ada kucing.

Terus kamu ngerengek minta mpus-nya ikut. Akhirnya mama ambil, terus mama taruh di dalam gendongan sama kamu, ikut digendong pulang. Itulah si Mpus yang selalu nemenin dan njagain kamu main.”

Gyahahaha… Mungkin gara-gara itu saya jadi ga bisa lepas sama bulu kucing sampai sekarang, bawaannya pengen unyel-unyel terus ;p. Anyway, hampir di setiap foto di Juata memang selalu ada itu si Mpus.

Lanjut, salah satu kisah paling favorit tentang saya di Juata adalah… makan keluwing!

“Masih pagi, papa mama belum bangun, kamu udah bangun sendiri dan langsung merangkak, eh.. merayap keliling rumah. Tiba-tiba kedengeran suara kamu nangis teriak.

Papa mama langsung bangun, lari keluar kamar. Kamu lagi duduk nangis, mulut mangap, sambil lidahnya keluar gitu, di atas lidah ada keluwing lagi mlungker.”

“Kayaknya kepalanya udah hancur deh, jadi mungkin sempet kamu gigit, terus kepedesan.”

“Mama aja nyingkirinnya dari lidah kamu sambil jijik.. hiii…”

“Puntung rokok juga pernah, dimakan. Pas digigit kepedesan, nangis.”

Ehem, sebagai pembelaan… keluwing lagi mlungker itu benar-benar mirip coklat tau! -_- Nih ya, saya lampirkan gambar sebagai bukti. Kalo puntung rokok, ehem, gatau deh, mungkin rasa ingin tahu saya lagi berlebih ^^;

Kisah-kisah nostalgia itulah yang menemani saya selama berjalan-jalan di Tarakan.

(bersambung…)

Can’t Let The Music Stop

Can’t let ‘this particular one song’ stop in exact…

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=hR6HuXbh-hc[/youtube]

Bring me back to two moments of old memories…

“Bergelung di balik selimut, di tempat tidur Ibu kos. Sambil memeluk toples berisi biskuit marie. Menonton American Idol season 7. Mengomentari betapa lucu dan menggemaskannya David Archuleta. Dan betapa kami nge-fans berat sama suaranya.”

I miss her. When can I get to visit her in Bandung? I really want to meet her, before… @_@

“Pesta kelulusan SMP. Satu band tampil di panggung. Membawakan lagu Pas Band feat. Tere – Kesepian Kita dan Vitamin C – Graduation. There he was, playing keyboard. Mengira bahwa dia akan masuk SMA yang berbeda.”

Dan ternyata, SMA yang sama tuh ^^; Dasar gosip, rugi deh udah mellow mellow. Duh, semoga ga ada temen SMP yang mampir ke blog ini, hahah. Akh, gara-gara buka diari lama untuk sumber posting ini sih…

Can’t let the music stop,
Can’t let this feeling end,
Cause if I do it’ll all be over,
I’ll never see you again…

Air Mata

*Walaupun judulnya depressing, tapi isi posting di bawah ini jauh dari itu kok ^^ Fase itu baru saja berlalu, hahah*

Beberapa hari ini, air mata saya terkuras habis. Dan dengan ini saya menyatakan bahwa kejadian tersebut murni sepenuhnya adalah kesalahan: sistem hormonal ^^; Ah, terlalu sombong memang tidak baik. Dulu, ketika mendengar atau membaca betapa PMS bisa sangat menyusahkan hidup, saya dengan sombong berkata “Masa sih? Gw ga pernah ah sampe segitunya”. Dan kali ini, saya merasakan sendiri dampak terparah dari sindrom paling menyebalkan itu.

Satu-satunya cara mengatasinya memang cuma: menyalahkan pihak lain *maaf ya pihak lain, membuat dirimu jadi korban, semoga dirimu bisa mengerti >_<*, menangis sampai puas, lalu tertawa sampai puas *dengan nonton The A-Team misalnya ;p*. Hummmh, memang terdengar seperti orang gila. Tapi apa boleh buat, belum menemukan formula lain yang ampuh untuk ‘memantul kembali’. Dan biasanya setelah itu yang tersisa adalah rasa malu dan rasa bersalah *pada pihak lain* = =a Akh…

Anyway, gara-gara ekskresi air mata besar-besaran ini, jadi teringat pada insiden beberapa tahun yang lalu…

Alkisah, sejak di SMP saya sudah mendengar kisah-kisah nyentrik dari guru kesenian SMA *saya sekolah di SMP dan SMA swasta satu kompleks*. Bahwa dia terkenal hobi ngasih hukuman: mengukur keliling lapangan dengan penggaris 30 cm, diawasi. Dan begitu saya ketemu langsung, beuh… memang nyentrik pol. Kayak Ian Kasela, kemana-mana selalu pakai kacamata hitam. Padahal udah tua, tapi gayanya kayak playboy cap jago umur 20-an.

Satu saja doa saya waktu baru masuk SMA ketika itu: jangan sampai deh, kena hukumannya si Peno *nama julukannya*. Saya bertekad bakal ngerjain semua tugas-tugas yang dia kasih, membawa alat lukis apapun yang dia suruh. Dan ternyata… doa saya, ga nyampe T___T

Sebentar, sudah agak lupa cerita detilnya, nyontek diari jadul dulu *maafkan kalau bahasanya masih bahasa ABG banget ;p*

Read more »

My First Boyfriend

NOT!!!

Ahahahaha, ga mungkin lah, masa sekecil itu udah punya pacar 😉 Perkenalkan, sepupu tersayang yang selalu menemani gw main bareng, tidur bareng, bahkan… ehem mandi bareng *DULU!* selama menghabiskan waktu di rumah Eyang Dramaga *panggilan terhadap Eyang Putri dan Eyang Kakung yang tinggal di kompleks dosen IPB, di Dramaga*.

Hasil ngubek-ngubek koleksi foto lama, ketemu deh sama foto-foto jadul nan nostalgic ^^; Jadi inget… Ehem, dulu waktu SD, kalau misalnya dijodoh-jodohin sama anak-anak di kelas *biasalah anak SD, jaman dulu saya cukup populer ;p*, gw bakal mengeluarkan foto di atas, lalu bilang “Aku udah dijodohin tauu, sama ini!!”. Gyahahahahaha… pengaruh nonton sinetron tampaknya *maaf ya, sepupu ^^;*.

Ya ampun, sepupu… posemu, dasar calon playboy! :)) Ini kira-kira waktu itu gayanya diarahkan oleh fotografer, atau gaya natural ya?? Ah, kita berdua memang bakat jadi model ya ternyata…

Wahahaha, ga ada satupun yang ngeliat ke arah kamera. Aw aw… walaupun foto berempat, dunia serasa milik berdua ya, sepupu ;”) FYI, yang di sebelah kanan gw itu adalah sepupu yang jadi korban insiden Monyet Jutata.

Semua foto di atas diambil di halaman belakang rumah Eyang Dramaga yang luaaas kayak hutan mini ;p. At least waktu gw umur segitu kayaknya luas banget, hehe.

If you read this, Ario… Hi, cousin!! Really miss all those times 😉 Do you remember?

Family Gathering dan Monyet Jutata

Akhirnyaaa.. bersua kembali dengan blog tercinta, setelah beberapa hari ga bisa ngeblog karena bandwidth limit-nya udah kelewat >_<. Hummmh, jadi pengen upgrade lagi ;p

Anyway, akhir minggu kemarin gw pulang ke Bogor, karena ada acara makan-makan keluarga besar, di rumah Eyang Kakung. Nyaris full team, kurang: Om Mahdi & Luthfi di Aceh, Pupule yang lagi asik fesbukan di Tarakan *hihi*, dan Ditul yang lagi sibuk tryout demi mengejar cita-cita *semangat, sist!! kan kalo situ jadi dokter, sini bisa berobat gratis ^^*. Dalam rangka? banyak..

Syukuran wisuda sepupu *if you read this, Dhika, congratz!! OOT: wisuda UI ada live streaming-nya ya, kereeen…*, anniversary Pakdhe Rhiza & Budhe Erna, ulang tahun Mumule & Lek di bulan Januari, 10 tahun Eyang Putri meninggal, dan 5 tahun sejak tsunami di Aceh :'( *Tante Koekoek, Maurin, & Tazki, may you all rest in peace*.

Great feast!! Sayang ga ada lumpia makassar >.< maklum, udah ngidam dari kapan tau. But it’s okay, toh makanannya udah banyak, sampe rasanya ga bisa bangun dari duduk saking kenyangnya.

Tentang family gathering sudah, lanjut ke ‘monyet jutata’. Jadi, entah kenapa tiba-tiba nostalgila itu dimulai *kayaknya gara-gara gw iseng nggigit tangan mum, hihi*. Dan cerita pun mengalir.

Konon katanya, beberapa minggu *atau bulan?* setelah gw lahir di Bogor, langsung diajak terbang ke Juata, Tarakan. FYI, Tarakan adalah sebuah pulau di Kalimantan Timur. Ya, pedalaman, yang katanya mau ke TK aja harus naik turun gunung, haha. Tapi sekarang udah lumayan modern kok *iya ga, Pul?*, walopun masih ga ada Twenty One :D.

Gw ga inget sama sekali tentang masa kecil gw selama beberapa tahun di sana. Tapi, dari cerita orang-orang dan foto-foto, bisa tergambarlah masa kecil gw. Teman bermain seringnya hanya kucing ^^; Di hampir setiap foto pasti ada kucing yang setia menemani gw bermain.

Lalu, bakat omnivora gw mulai tampak ;p. Buktinya, katanya gw hobi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut. Sebutlah, luwing *tau kan, sejenis kaki seribu ya kalo ga salah?*, abu rokok, dan sebagainya. Owh, lagu favorit gw waktu itu: ‘Isabela adalah…’.

“Isabela adalaaah… kisah cinta dua duniaaa…”

Nah, setiap akhir tahun, kami pulang ke Bogor, sekaligus merayakan ulang tahun gw. Di Bogor, ada sepupu yang seumuran *setahun di bawah gw*, lucu banget. Kulitnya putih, tembem, montok, rambutnya kriwil-kriwil. Mungkin, karna gw jarang ketemu yang kayak gitu di Juata, jadi gemes. Dan terjadilah insiden itu sodara-sodara. Katanya sih, gw gigit tangannya sampe berbekas dan berdarah *ah, gw tau ini yang cerita pasti lebay, ga mungkin anak kecil seimut gw bisa nggigit sampe berdarah ;p*.

Dan karena nama panggilan gw di rumah Tata, mulai sejak saat itu, gw mendapat julukan dari Eyang: Monyet Jutata ^^; sial…