Category Archives: Technology

IndoTimex for Indonesian Temporal Expressions

One question that got me thinking during the interviews with Google was, “Do you have any experience in building an NLP tool, like a tagger or a parser, for Indonesian language?”, and my answer was, “Well, ehem, not yet.”  I wonder why…

That’s why, during the last Christmas/New Year break *while waiting for the result of the interviews*, I decided to do something for Indonesian language :”>. Actually, almost the same thing I already did for Italian… building an automatic extraction system for Indonesian temporal expressions!

Extraction means recognizing time expressions given a text, then normalize their values. For example, if today’s date is March 25, 2015 (2015-03-25), then when the system found dua hari yang lalu [two days ago] the value will be normalized as 2015-03-23. I called the system: IndoTimex!

The online demo of IndoTimex is available here.

The complete system, implemented in Python, is available (for download) here.

And… since there was a conference deadline around that time, PACLING 2015 *which will be held in Bali! :D*, I submitted a paper about it and got accepted. So, to know more about the technology behind the system, please read the paper here.

If everything works fine, soon I will visit Bali (and definitely, also home) for a vacation with my family, oh, and also for the conference ;). This is what we call as an Indonesian proverb “sambil menyelam minum air”, hohoho…

Women in Computer Science

picture is taken from here

It all started when someone sent me a link for the chance of travelling to the States for free :). The occasion is to attend the 2013 Grace Hopper Celebration of Women in Computing Conference, in Minneapolis.

When I excitedly started filling the form, I found that there is one requirement to write an essay about “Women in Computer Science”. I started Googling for references, and came across this cool video.

she++: The Documentary from Ellora Israni on Vimeo.

Read more »

My Web Design Projects

Web design, dunia yang baru saya kenal di semester pertama kuliah, ketika mengikuti mata kuliah Pemrograman Web. Dan sejak itu, saya langsung jatuh hati ;). Kalau sudah ‘bergumul’ dengan HTML, CSS, Javascript, atau PHP, dan tentu saja.. digital image editor favorit saya, Photoshop, rasanya sulit untuk berhenti. Biasanya sih ga akan berhenti sampai saya cukup puas dengan hasilnya, walaupun bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan monitor dan keyboard.

Hasrat mendesain web ini dulu saya salurkan lewat proyek dan tugas di beberapa mata kuliah. Lalu setelah bekerja saya iseng membeli domain dan hosting, dan menyalurkan hobi saya di situ. Kalau sudah bosan dengan desainnya, dan punya waktu luang plus ide, pasti saya sempatkan untuk mendesain ulang. Just for fun 😀

Dimulai secara tak sengaja oleh permintaan seorang teman untuk membuatkan wedding website, dan pesanan-pesanan selanjutnya yang menyusul, saya mulai ‘menjual’ hobi saya. Getting paid while having fun? Why not? 😉

Sejauh ini, baru 3 website yang saya kerjakan. Masih amatir, ehem ;p. Dua di antaranya wedding website, jokomirawedding.com dan reishafatoni.com *kalau sudah tidak bisa dibuka berarti domainnya expired, maklum, wedding website ;p*. Sedangkan yang terakhir (masih belum selesai), dokteranakku.net, sejenis blog berisi artikel tentang kesehatan anak.

Semuanya punya ciri khas desain yang sama, gambar ruangan dengan detail sesuai dengan isinya. Dan semuanya mengandalkan keingintahuan user untuk menemukan link menuju ‘sesuatu’ jika diklik. Mulai bosan sih dengan ide ini, ingin mendesain sesuatu yang lain, tapi nanti dulu deh ^^;

Nah sekarang… yiuks ah, lanjut ke bagian curcol-nya ;p

Read more »

Wii: Tragedi Error 003

Dua tahun yang lalu, tahun 2009 di bulan Oktober…

Saya ingat benar, waktu itu akhir minggu, dan saya mau berakhir pekan di rumah di Bogor (saya masih jadi karyawan dan masih berbasis di Cikarang). Dengan hati riang saya membawa pulang Nintendo Wii yang baru saja dibeli di Mangga Dua. Console game saya (dan adik) yang pertama! ^^

Setelah bongkar-bongkar pasang-pasang dan bisa menyala dengan sempurna (walaupun dengan instruction manual berbahasa Korea ^^;), dengan euphoria berlebih kami bermain semalaman, sampai pagi. Dan tragedi itu pun terjadi.

Dalam keadaan sedikit teler habis bergadang semalaman…

Saya & Adik: Waah, bisa internet.. Coba yuk, browsing!
Wii: Supaya bisa internet, software-nya harus di-update nih.. Update dong!
Adik (memegang controller): Gimana nih? Update?
Saya: Uhmm… Coba aja…
Wii: Bla bla bla… ‘Yes’ or ‘No’?
Adik: Yes?
Saya: Yes!

Tak berapa lama kemudian…

Wii: Mwahahahahaha… Selamat, Wii ini sudah terkena error 003!
Saya & Adik: Terdiam… Terpaku… Memandang layar hitam, bertuliskan ‘Error: 003 Unauthorized device has been detected’.

Yap, belum genap sehari umurnya, Wii kami terkena the infamous error 003 T__T. Kami berdua sama-sama salah, walaupun si adik eksekutornya, tapi saya yang memberi komando. Termasuk penjualnya juga salah karena dia tidak memberi peringatan untuk tidak meng-update via internet.

Kami langsung mencari-cari cara untuk menyembuhkannya, dengan bantuan Mbah Google tentu saja. Hasilnya, semua situs yang membahas error 003 ini memberikan pernyataan yang bernada sama: ucapkan selamat tinggal pada Wii anda, karena Wii anda.. sudah tak terselamatkan. Belum ada cara untuk bisa sembuh dari penyakit yang satu itu, kecuali.. ganti board (sama saja membeli baru). Dan kami pun menangis meraung-raung…

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin menulis tentang ini di blog, tapi apa daya, terlalu menyakitkan untuk diingat, hahah. Sekarang dengan hati lapang saya menuliskan kisah ini, karena… kisah ini ber-happy ending sodara-sodara! ^^

Dua tahun kemudian, sang Wii masih bersemayam dengan tenang di gudang. Saya dan adik iseng googling tentang perkembangan error 003 ini, dan hasilnya… jeng jerengjeng… error 003 sudah bisa disembuhkan! Walaupun di internet dijelaskan langkah penyembuhannya, tapi kami selaku gamer awam akhirnya memutuskan untuk membawanya kembali ke Mangga Dua, mencari toko yang bisa menghidupkan kembali Wii kami.

Dan akhirnya sejak kemarin, setelah seminggu menginap di Mangga Dua, Wii kami sudah kembali terpasang dengan manis di sebelah televisi ^^. Wiiii!!

The Magic of ‘Refine Edge’

Semua berawal dari… ketika saya membaca persyaratan untuk membuat visa, yang menyebutkan bahwa pas-foto harus berlatar belakang warna putih -_-. Sempat terpikir untuk foto ulang *toh sekarang beratnya menurun dibandingkan waktu bikin pas-foto terakhir :D*, tapi kok males ya. Akhirnya memutuskan… di-sotosop saja! ^^ *warna background-nya looh, bukan ‘berat badan’ nya*

Awalnya mau pake tool andalan: Eraser Tool dan Brush Tool *grin*. Ah, tapi… masa Photoshop-nya udah sampe CS5 *btw, saya dapet Photoshop CS5 dari sini*, caranya masih cupu aja. Akhirnya browsing-browsing, dan ketemu video tutorial di sini. Menggunakan fitur baru untuk mengatasi masalah masking yang ribet macam rambut manusia. Memang kalo mau sotosop-an, yang paling ribet memang ngurusin rambut ^^;

Dan hasilnya… *drum roll* benar-benar memuaskan!! Here, take a look

Detail rambutnya dapet banget, keren! ^^ Bagi yang males nonton video tutorialnya *bagi yang kecepatan inetnya ga oke untuk streaming*, berikut saya berikan petunjuk step-by-step nya… Petunjuknya memang agak panjang, tapi prosesnya benar-benar mudah kok. Enjoy!!

Oh ya, mohon maaf sebelumnya, objek gambar adalah pas-foto saya, jadi kurang menarik ;p. Bukan bermaksud narsis, bukaaan… Tapi karena sekalian praktek sekalian di-capture gitu, ‘sekali mendayung satu dua pulau terlampaui’ bukan begitu? Okay, here we go…

Read more »

24 Rooms of Tiny Apartment

For my future reference, if someday I could not afford to buy a big spacious house ;p

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=Lg9qnWg9kak[/youtube]

The magic of architecture and interior design. If only I followed this path of my dream, will I become this brilliantly creative architect?